Archive for May, 2005

dreamin’ of Sergent Garcia

Sunday, May 22nd, 2005

Waktu menunjukkan pukul 20.00 lewat ketika lampu penonton mulai dipadamkan, dan yang tersisa hanyalah lampu sorot diatas dan depan panggung. Tak lama kemudian muncullah sosok yg ditunggu2.. he’s… SERGENT GARCIA ‘King of Raggasalsa’. Bersama grup bandnya, Los Locos del Barrio, dia mulai membius penonton dengan irama reggae latin yg dikombinasikan dg irama salsa. Hingga setiap tubuh yg memenuhi gedung societet (tempat pertunjukan dilaksanakan), tak mampu untuk tak bergerak, so am I.

Peluh yang mengalirpun tak terpedulikan. Kami terus bergoyang sepanjang pertunjukan dengan mata dan telinga terfokus pada aksi ‘the king’ n frens. Dengan mulut komat kamit kami juga berusaha mengikuti lirik yang diajarkan tanpa tahu artinya (karna dalam bahasa spanyol). Sedang musik yang tersaji terkadang berirama cepat layaknya hiphop, terkadang slow dengan warna salsa yang kental, tapi yang pasti selalu ada warna reggae didalamnya. Diramu dengan aksi panggung yg ok, interaksi yg bagus dg penonton, penampilan yg charming dg busana serba putih, pertunjukan mereka malam itu bisa dikatakan sempurna. Hingga tak terasa pertunjukan yg berlangsung selama 2 jam itu berakhir sudah.

Kami pulang dengan rasa cape’, haus dan lapar, yang baru kami sadari setelah pertunjukan berakhir. Malam itu kami berangkat tidur dengan rasa puas, dan bermimpi tentang ‘le sergent’ yang baru dapat kami saksikan lagi tahun depan. Just like his song.. ” Long time….”

itu pohonku

Saturday, May 14th, 2005

Dulu di belakang rumahku tumbuh sebatang pohon jati yang umurnya sudah puluhan tahun, bahkan mungkin lebih dari seratus tahun. Bagiku yang masih kecil waktu itu, pohon jati tersebut terlihat begitu hebat. Dia punya diameter yang besar, tinggi dan daunnya lebar2. Satu2nya yang membuatku heran adalah ukuran bijinya yang kecil, yang tidak sebanding dengan batang dan daunnya.

Bersama teman2ku, aku suka bermain petak umpet dibelakang rumah. Dan pohon jati itu menjadi tempat persembunyian favoritku, karena dengan batangnya yang besar, dapat menyembunyikan tubuh kecilku dengan sempurna.

Karena pohon jati itu pula aku slalu inget pelajaran IPA yg diberikan Ibu Guru waktu SD tentang pohon yg meranggas di musim kemarau. Dia menjadi semacam bukti nyata dari apa yg telah dijelaskan oleh guruku.

Pohon jati itu menjadi kebanggaan dan kegembiraanku. Aku sering bermain di sekitarnya, meskipun terkadang aku takut, karena aku pernah menemukan ular didekat pohon itu. Aku takut pada ular, meskipun sebenarnya  mereka cantik.

Suatu hari, pohon itu ditebang atas perintah bapak, dan kemudian dibiarkan tergeletak begitu aja dalam waktu yg agak lama. Sudah tidak ada lagi kebanggaanku padanya. Pohon itu kini hanya seonggok batang kayu yang tak berdaya. Tapi aku masih tetap bermain bersamanya, bersama teman2 kecilku, diatas bangkainya.

Pada akhirnya, batang pohon jati itu menjadi salah satu unsur rumahku yang baru dibangun setahun kemudian. Kebanggaanku padanya pulih kembali. Dia kini tak hanya seonggok kayu yg ditelantarkan tak berguna. Dia kini menjadi bagian dari rumahku, yang melindungiku dan keluargaku. Dan kemudian aku tahu dan menyadari, dia hebat bukan karena bernama pohon jati, bukan pula karena tubuhnya yang besar dan kuat, tapi karena apa yang telah diperbuat dan manfaatnya bagi makhluk lain.