sudahkah kita peduli?
Saturday, June 4th, 2005Salah satu acara TV favoritku adalah Oprah Winfrey Show. Alasannya? Karena acara ini ’so inspiring’ bagiku. Minggu lalu tema yg diangkat adalah tentang heroisme. Ditampilkan beberapa kisah yg menunjukkan bagaimana ternyata seseorang mampu menolong orang lain secara spontan dikarenakan hatinya tergerak melihat penderitaan orang lain. Ada kisah seorang ibu yang secara spontan menolong seorang anak kecil yang sedang diserang anjing (sejenis buldog), tanpa mempertimbangkan bahwa dia juga dapat terluka parah jika menolong anak tersebut. Ada pula kisah tentang 3 orang murid SMU yang secara spontan melindungi ibu guru mereka dari serangan suaminya yang bersenjatakan pisau. Dan masih ada beberapa kisah heroik lainnya. Di akhir acara ditampilkan pula kisah para prajurit muda Amerika yang gugur dalam peperangan di Afghanistan (ato di Irak?), lewat surat2 mereka yang ditujukan utk keluarga tercinta. Surat2 itu begitu menyentuh dan membuka mataku bahwa mereka tidak hanya sekumpulan prajurit dari negara yang sok kuasa. Tapi mereka masing2 adalah sebentuk jiwa, bernama seseorang.
Benar kata Oprah. Jumlah prajurit yang gugur itu bukan hanya sederet angka matematis, bukan hanya sekedar statistik- terlepas bahwa jumlah itu tidak seberapa dibandingkan dengan penduduk yang tewas di Afghanistan, Irak ataupun Palestina akibat perang. Setiap angka adalah sebuah jiwa. Sebuah jiwa yang sangat berharga. Sebuah jiwa yang sangat berarti bagi seseorang, entah orang tua, kakak, adik, anak, kekasih, teman atau siapa saja.
Bicara tentang heroisme- sebenarnya inti yang paling penting dari kisah2 tersebut adalah KEPEDULIAN terhadap sesama, terhadap lingkungan. Kita tak usah membuatnya seperti kisah2 di acara Oprah itu atau menunggu momen yang seperti itu untuk peduli (mjd ‘hero’) terhadap sesama. Cukup mulai dari hal kecil. Seperti, pernah suatu pagi ketika aku bermotor di jalan yang tidak terlalu lebar, dari arah berlawanan ada sebuah mobil yang melaju pelan. Dari jauh si pengendara mobil memberiku tanda dengan menghidupkan lampu dan mematikannya kembali. Biasanya tanda seperti itu ditujukan untuk memberi kode pada pengedara lain agar dia bisa lebih dulu lewat. Motorpun akhirnya agak kupinggirkan. Tapi ternyata si pengendara mobil masih saja memberiku tanda dengan lampu mobilnya yang melaju pelan. Sambil ngomel2 kuliatin si pengendara (seorang bapak2). Tapi kemudian kulihat dia memberi kode dengan tangannya dan menunjuk2 kearah motorku. Untuk sesaat aku masih nggak ngeh apa maunya. Dan tiba2 aku sadar kalau ternyata lampu motorku masih menyala setelah kupakai semalam. Ah, ternyata dia mau memberitahuku tentang itu. Sambil mengganggukkan kepala aku berterimakasih pada si bapak pengendara mobil. Aku tak tahu dia sempet mendengarku apa nggak. Beberapa saat setelah kejadian itu aku masih terheran2. Hari gini gitu lo.. masih ada orang yang care pada orang lain untuk sekedar hal yang kecil. Dan si bapak itu bener2 mau ngasih tau aku sampe aku bener2 menyadari apa yang dimaksudkannya. wow..!