Archive for September, 2005

takdir..?

Wednesday, September 7th, 2005

* Teriring doa dan belasungkawa yang sedalam-dalamnya bagi para korban kecelakaan Boeing 737 Mandala Airlines.

Takdir. Itu adalah kata yang terlintas di benakku ketika pertama kali mendengar berita kecelakaan pesawat Boeing 737 Mandala Airlines di Medan, tanggal 5 September 2005 siang. Berbagai alasan dan logika penyebab kecelakaan itu langsung ku’cut’ dengan kata TAKDIR. Tentu, ketika orang bicara tentang alasan teknis terjadinya kecelakaan, maka yang muncul adalah berbagai penjelasan logis yang rumit beserta paparan panjang lebar dengan berbagai macam pembuktian. Tetapi jika kita bicara tentang alasan mengapa jumlah korban cukup banyak dan mengapa harus mereka yang mengalami, tentu muaranya adalah takdir. Tak ada yang bisa membantah.

Orang bilang- dan kita yakin- hidup, mati, jodoh dan rezeki itu adalah misteri yang kita sebut takdir. Tak ada yang tahu mengapa ada orang yang mampu hidup 100 tahun tetapi ada pula yang hanya mampu menghirup udara sekian detik. Tak ada yang tahu mengapa Si A bisa mencintai Si B. Tak ada yang tahu mengapa Si Kaya tiba-tiba menjadi miskin dan Si Miskin bisa tiba-tiba menjadi kaya.

Kita mungkin bisa berteori macam-macam untuk menjelaskannya. Dan kita akan terus bertanya atas jawaban yang satu dan berikutnya. Maka ujung dari pertanyaan itu pastilah berjawab takdir. Misalnya, mengapa burung bisa terbang? Kita akan menjawab, ‘karena burung punya sayap’. Kemudian kita bertanya lagi, mengapa sayap bisa menyebabkan burung terbang melayang? Dan kita akan menjawab bla-bla-bla…, dan mungkin kita masih akan bertanya lagi dan mencoba mencari jawabnya. Dan mungkin (lagi) pada ujung pertanyaan kita akan bertanya, mengapa burung termasuk yang terpilih mempunyai sayap? Maka jawabnya adalah TAKDIR.

Takdir memang bisa diubah dengan berusaha dan berdoa. Tetapi takdir akan tetap selalu menjadi misteri. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok, esoknya, esoknya lagi, dan seterusnya selama dunia ini masih ada. Mengapa takdir itu ada? Mungkin agar hidup menjadi lebih menarik, atau mungkin seperti yang pernah kubaca dalam sebuah buku, ‘Agar hidup menjadi lebih bermakna’.

BAU

Wednesday, September 7th, 2005

Intrik…kecurangan… hal itu baru benar-benar kurasakan setelah kumasuki dunia kerja yang baru beberapa bulan ini. Hal yang sebenarnya pernah kurasakan ketika aku ikut mengurusi warung orang tuaku yang mempunyai sedikit pegawai. Dari sedikit pegawai itupun terdapat kecurangan dan intrik diantara mereka, walaupun hanya dalam skala kecil. Namun jika dikalkulasi, sedikit kecurangan pun jika dilakukan terus-menerus akan merugikan kami sebagai pemilik. Disamping itu, intrik diantara mereka terus berkembang sehingga menciptakan iklim yang negatif. Keputusanpun diambil, dan kami memberhentikan 3 orang diantaranya. Konsekuensinya, kami jadi harus bekerja lebih berat, tetapi juga dengan cost yang dapat ditekan. Dan- masalah kecuranganpun dapat diminimalisir.

Sekarang, setelah aku masuk dalam dunia perkantoran, bekerja sebagai kaki tangan pemerintah- yang kita semua tahu bagaimana kecurangan di instansi2 pemerintah- aku masih saja kaget. Terlebih lagi, kecurangan paling besar (yang aku tahu) justru tidak berasal dari kantorku, tetapi dari pihak luar.

Dan kita juga tahu, kecurangan bukan monopoli instansi2 pemerintah. Setiap instansi, perusahaan, atau apapun namanya yang merupakan tempat menimba uang yang terorganisir, pastilah ada sedikit banyak kecurangan.

Teman kantorku bilang (dan katanya dia mengutip omongan seorang politikus), suatu kali jika kita masuk WC yang berbau untuk pertama kalinya, pastilah kita merasa jijik, atau paling tidak merasa tidak nyaman untuk menggunakannya. Tetapi jika kita memakai WC itu secara terus menerus untuk waktu yang lama- mungkin karena terpaksa- pastilah kita akan terbiasa dengan bau itu, hingga ketidaknyamanan tak terasa lagi. Nah (masih kata dia), begitu juga dengan intrik dan kecurangan yang ada, suatu saat kita akan terbiasa. Bener- tapi kalau sampai merugikan orang banyak, atau paling tidak merugikan diri kita, apakah kita akan diam saja?atau malah kita akan ikut arus, mengikuti kecurangan mereka?

Seperti juga- setiap kali aku datang ke Jakarta, pasti ada aroma khas yang menyambutku; aroma sampah, got, selokan atau sungai yang busuk. Aroma yang sepertinya jadi trademark kota Jakarta. Seolah jika belum mencium bau itu, serasa belum di Jakarta. Dan pada akhirnya aku terbiasa dengan bau itu, bahkan merasa aneh jika tidak menciumnya. Padahal, bau itu sangat tidak sedap di hidung. Jika kecurangan itu seperti bau busuk yang kucium itu, aku jadi takut, mungkinkah suatu saat nanti aku terbiasa dan bahkan mengikuti arus kecurangan itu serta mencari pembenaran-pembenaran atasnya?