BBM Naik, Rakyat Tercekik
Friday, October 7th, 2005Akhir September- hampir setiap orang di setiap sudut kota membicarakan tema yang sama: ‘kenaikan harga BBM’. Tak pelak lagi tema itu jadi omongan, lha wong ini menyangkut stabilitas dan kelancaran hidup. Ekonomi yang sudah mulai agak stabil dan tertata tiba-tiba dikejutkan dengan kenaikan harga BBM yang melambung tuuinggi. Masyarakat yang pada isu2 awal kenaikan BBM sudah bersiap-siap membuat permakluman- saya katakan permakluman karena begitulah hukum di negara kita, selalu saja masyarakat yang diharuskan memaklumi pemerintah dan bukan pemerintah yang memaklumi masyarakat- pada akhirnya harus membuat permakluman (baca: pengorbanan) yang lebih besar lagi, karena kenaikan yang seharusnya ‘hanya’ 50%-70% mendadak menjadi lebih dari itu. Permakluman seperti apa lagi yang diminta? Belum lagi, kenaikan itu diumumkan jauh2 hari sehingga menjadikan panik di masyarakat.
Dari siaran televisi, saya menyaksikan presiden kita berbicara mengenai alasan kenaikan BBM. Salah satunya yang tertangkap oleh telinga saya adalah, agar terjadi ‘pemerataan’, dimana masyarakat yang bermobil (kaya) dapat mensubsidi masyarakat yang tidak mampu, sehingga anggaran subsidi BBM tidak dinikmati oleh orang yang mampu. Sekilas mungkin hal itu benar adanya, tapi bagaimana dengan sistem? Saya, sebagai orang yang awam dan mungkin tidak mempunyai pikiran yang terlalu jauh ke depan, mencoba menelaah. Jikalau apa yang dikatakan oleh bapak presiden kita yang terhormat itu benar ingin dilaksanakan, yaitu agar terwujudnya pemerataan, mengapa tidak menggunakan cara yang lain daripada menaikka harga BBM yang jelas akan menyengsarakan rakyat? Misal, bagaimana jika dengan meningkatkan pajak kendaraan atau barang mewah? Bukankah dengan demikian malah akan tepat sasaran, karena yang terkena kenaikan pajak adalah benar2 orang yang mampu?
Dari siaran televisi juga saya menyaksikan bapak wakil presiden dalam suatu dialog dengan masyarakat. Ketika masyarakat protes dengan kenaikan BBM, beliau kemudian menjelaskan bahwa dengan adanya kenaikan itu, akan ada pula dana kompensasi yang diberikan kepada masyarakat kurang mampu sebesar 100 ribu per bulan. Nah, - masih kata beliau- dana kompensasi itulah yang dapat digunakan untuk membeli BBM, karena itu jangan dipergunakan untuk hal lain kecuali untuk mencukupi kebutuhan bahan bakar. What? Waduuuh pak wapres, mbok sampeyan itu mengerti (atau pura2 nggak mengerti?), dengan adanya kenaikan BBM yang sebegitu besar pastilah akan diikuti kenaikan harga2 lain yang juga tinggi. Dengan kompensasi sebesar itu apa ya dapat menutupi kebutuhan hidup?
Sekali lagi dari siaran televisi (dan juga koran), saya mendengar adanya penyelewengan dana kompensasi di sana sini. Oalah… kok ya rakyat kita ini selalu disengsarakan… kok ya tega-teganya yang menyengsarakan…. Sebenarnya negara ini mau diapakan?dibawa kemana?jika rakyat kecil masih saja jadi korban. Apakah harus dengan mencekik mereka agar negara ini maju?