PANTURA TRIP: PART II

Rembang

Malam harinya aku ke seputaran alun-alun, cari makanan khas kota ini, Lontong Tuyuan. Makanan ini isinya lontong yang disiram sama sayur, sejenis opor tapi rasanya lebih nendang n pedes, plus lauk ayam. Hmmm uenak. Tapi…..bagi anda-anda yang mau nyobain, saya sarankan untuk memilih tempat/ warung yang bersih n higienis. Soalnya, di tempet aku makan itu ternyata nyuci peralatan makannya jorok abis! Haduh, bikin eneg, mana tu makanan dah ketelen lagi

Lasem: The Ancient City

Esok paginya, aku lanjut ke tujuan utamaku: Lasem. Dengan ‘meminjam’ sepeda motor milik driver hotel, aku cabut ke Lasem jam 9 pagi. Perjalanan antara Rembang-Lasem memakan waktu sekitar 15 menit, melewati jalan Daendels yang melegenda itu.

Lasem adalah sebuah kota tua yang tak tergeser oleh jaman, dimana masih banyak terlihat bangunan-bangunan tua. Berada disini, seperti terlempar ke sebuah kota kadipaten di jaman Belanda. Sebuah kota yang dulunya adalah kota pelabuhan yang dilewati oleh jalan pos. Sebuah kota dengan kultur pesantren dan pecinan yang berdampingan dengan damai.

Tempat pertama yang ingin aku kunjungi adalah Vihara Ratanavana Arama yang terletak diatas bukit, dan berjarak sekitar 4km dari Kota Lasem. Konon di Vihara ini ada patung Budha yang sedang tidur kaya’ di Thailand ntu.

Untuk sampai di vihara tersebut harus melalui jalan desa & jalan plesteran yang lebarnya hanya cukup untuk satu mobil. Well, setelah tanya berkali-kali kesana sini, akhirnya sampai juga di ni vihara. Tapi….sayang, sampai sana ternyata sedang ada meditasi, jadi pengunjung yang hanya bertujuan melancong tidak diperbolehkan masuk. Padahal sebenernya, kalo sedang ga ada sembahyangan ato meditasi, kita diperbolehkan banget masuk. Hiks, kecewa deh…:(

Berikut ini foto yang aku unduh dari blog http://ferdinandleonidas.blogspot.com buat ngobatin penasaran.

 

Perjalanan akhirnya kulanjutkan ke lokasi pembangunan PLTU di tepi pantai. Aku dapat info mengenai PLTU tersebut dari seorang bule Itali yang menginap di hotel yang sama. Lokasi PLTU ini berjarak sekitar 6km dari vihara. Di kanan kiri lokasi tersebut banyak terdapat tambak yang dimiliki oleh masyarakat.

Kendaraan-kendaraan proyek masih banyak yang lalu lalang. Dan banyak pekerja, yang katanya kebanyakan bukan orang Indonesia. Hmm, kupikir aneh, kenapa ga pake tenaga dalam negeri aja ya? Ternyata….konon kabarnya diawal pembangunan PLTU ini, banyak pekerja Indonesia yang terlibat. Tapi kemudian banyak kejadian aneh & menelan korban jiwa, hingga banyak pekerja Indonesia itu yang keluar. Akhirnya direkrutlah banyak tenaga asing, karena orang-orang kita tidak mau kerja disana.

Puas melihat-lihat n bernarsis ria, perjalanan siang itu kulanjutkan ke tujuan yang paling utama: Klenteng Cu An Kiong. Dalam perjalanan, aku sempet mampir pula ke Pesujudan Sunan Bonang yang terletak di Gunung Punjul. Dari Gunung Punjul aku cabut menuju kota Lasem sekitar tengah hari.

Tidak sulit ternyata untuk menemukan Klenteng Cu An Kiong. Cukup bertanya sekali, kita sudah gampang menemukan. Klenteng ini terletak di Desa Dasun No.19. Ketika sampai sana, kebetulan juga sedang ada pengunjung 2 orang. Rupanya klenteng ini sangat terbuka bagi siapa saja yang ingin masuk, meskipun hanya sekedar ingin melihat-lihat.

Menurut seorang bapak penjaganya, klenteng ini merupakan klenteng tertua di Jawa, dan sudah berumur 600 tahun. Begitu masuk bangunan utama, mata langsung tertuju ke papan besar bertuliskan huruf cina, yang berisi pujian kepada ‘Tianhou’ atau ‘The Queen of Heaven’. Dan di dinding sebelah kanan dan kiri terdapat gambar-gambar yang mengisahkan cerita-cerita bangsa Cina. Menarik, karena digambar langsung oleh pelukisnya di dinding tersebut. Di klenteng ini terdapat altar utama untuk berdoa, yang kita tidak boleh masuk ke dalamnya, cukup dilihat dari batas penempatan dupa.

Hmmm… menarik mengetahui bahwa aku berkunjung di klenteng yang sudah sangat tua, dan mungkin merupakan klenteng pertama di jawa, yang mungkin pula karena dulu didukung oleh adanya pelabuhan yang berada di pantai yang tidak jauh dari tempat tersebut.

 

Berbicara tentang pelabuhan, aku juga berniat mengunjungi bekas galangan kapal Belanda yang juga masih berada di desa Dasun. Konon katanya, galangan kapal ini tinggal ‘fosil’, tinggal puing-puing, jadi sudah tidak terlalu kelihatan bentuk aslinya. Kabarnya pula, masih banyak ditemukan guci-guci cina jaman dulu di tempat tersebut.

So, lagi-lagi dengan bermodal mulut, aku tanya kesana-sini mengenai letak bekas galangan kapal tersebut. Ternyata kali ini tidak mudah menemukan apa yang aku cari. Siang semakin terik, dan lokasi yang kucari tidak juga kutemukan. Tempat-tempat yang aku kunjungi hanya menyuguhi aku suasana desa pesisir, desa nelayan. Terlebih lagi hari itu hari jumat, pas waktunya orang pergi jumatan. Segan rasanya ketemu orang-orang itu di jalan-jalan desa hendak beribadah, sementara aku malah bermotor ria nyariin tempat yang mungkin mereka pun tidak terlalu ‘ngeh’. Menjelang sore, akhirnya aku menyerah. Pulang ke hotel dengan rasa penasaran yang masih ngegantung.

Trip-ku di Lasem selesai sudah, karena esok pagi aku harus pulang via Semarang….

Semarang: Kota lama, Lawang Sewu, Sam Pho Kong

Jam 9 esoknya aku cabut ke Semarang setelah sarapan dengan menggunakan bus (nyetop depan hotel). Perjalanan memakan waktu 3 jam. Sampai terminal semarang, aku langsung ganti bus menuju Kota Lama.

Kota Lama masih menyisakan aroma jaman kumpeni, karena bangunan-bangunannya yang kental dengan arsitektur Belanda: bangunan megah, dengan banyak lengkungan dan tembok yang tebal. Kawasan ini terbentang antara Gereja Blenduk hingga Stasiun Tawang.

Sebenarnya bangunan-bangunan jaman Belanda tidak hanya berada di kawasan Kota Lama, karena di beberapa tempat di Semarang kita masih bisa menjumpai banyak bangunan-bangunan tersebut. Salah satunya adalah Lawang Sewu yang terkenal itu.

Memasuki bangunan Lawang Sewu, dah disuguhi oleh kesan yang suram. Percaya banget, kalo tempat ini tidak dijadikan objek wisata, begitu masuk pasti udah ketemu jin deh:( well, tak perlu panjang lebar, pasti udah banyak yang tau apa n bagaimana sejarah Lawang Sewu kan? …Lanjut…

Pos terakhir adalah Klenteng (ato kuil? Aku masih belum ngerti perbedaan klenteng, kuil dan vihara:( samakah?) Sam Pho Kong. Ni Klenteng kabarnya yang terbesar di Jawa, dan terbuka pula bagi siapa aja yang ingin masuk. Tapi lagi-lagi aku gak beruntung, karena saat itu adalah jam pengunjung ‘yang tidak berkepentingan’ dilarang masuk ke bangunan utama. Finally, cuma bisa foto-foto di halamannya yang luas ntu, dengan latar belakang si Klenteng. Hehe, itu pun udah berasa di Cina.

Perjalanan selesei, cabut pulang jam 5 sore…:)

Leave a Reply