Panggung Indonesia

December 24th, 2005 by keyn79

Ini adalah sebuah panggung Indonesia. Panggung sandiwara kehidupan dari sebuah negeri yang katanya bernama Zamrud Khatulistiwa, yang menurut orang dinamakan seperti itu karena negeri ini begitu kaya rayanya. Gemah ripah loh jinawi, toto tentrem karto raharjo, kalo orang jawa bilang. Negeri yang seharusnya mempunyai rakyat yang selalu tersenyum bahagia karena kesejahteraannya terjamin oleh semua kekayaan itu.. Kebutuhan semua orang tercukupi: Orangtua bekerja dengan senang hati karena tau hasilnya akan sepadan dengan keringat yang telah dikucurkan serta dapat mencukupi kebutuhan mereka. Anak-anak kecil bermain dengan gembira karena mereka mempunyai tubuh yang sehat dan tempat bermain yang menyenangkan, sedangkan kakak-kakak mereka belajar di sekolah dengan rajin tanpa perlu memikirkan biayanya… Sungguh semua itu pemandangan yang membahagiakan. Tapi inilah panggung sandiwara… ketika sandiwara usai, kenyataan tak harus sesuai dengan skenarionya.

Dan inilah kenyataan itu… wajah sebagian besar rakyat di negeri Zamrud Khatulistiwa…

Orangtua bekerja dengan gaji atau pendapatan yang minim, sementara kebutuhan hidup semakin meningkat dengan harga-harga yang tak kenal kompromi. Senyum anak-anakpun sulit mengembang, karena tempat bermain mereka sangat terbatas. Sukur-sukur jika mereka masih sempat bermain, terkadang… untuk bertahan hidup saja mereka susah, karena kurang gizi atau busung lapar yang menimpa. Lebih tragis lagi, nun diujung timur negeri ini, terjadi musibah… kelaparan!!di negeri yang katanya kayaraya ini, rakyatnya masih ada yang kelaparan, dan bahkan mati karena kelaparan???!! Peristiwa lain yang lebih memiriskan hati adalah.. banyaknya kasus bunuh diri anak sekolah yang disebabkan karena ketidakmampuan orangtua membayar biaya sekolah mereka!! Tuhan…

Disisi lain wajah negeri ini, manusia2 kaya berfoya2, menghamburkan uang yang tak perlu… Masih ingat hadiah dari salah satu konglomerat negeri ini bagi ulang tahun kota Jakarta yang berupa sebuah patung yang nilainya milyaran itu?atau… sekian ratus juta yang dikeluarkan beberapa artis untuk operasi plastik (walaupun itu hak mereka)? atau.. biaya perjalanan dinas keluar negeri anggota DPR yang nilainya ratusan juta (dan itu uang rakyat!!)sedang tujuan perjalanan itu sendiri tidak jelas?… Ironis…

Mungkin negeri ini sedang berusaha menerapkan hukum keseimbangan (berpasang-pasangan),layaknya semua yang ada di dunia ini, ada siang ada malam, ada pria ada wanita, ada panas ada dingin, ada hitam ada putih, dll. Lalu akhirnya menjadi seperti ini: Ada yang kaya, berarti harus ada yang miskin; ada yang senang, berarti harus ada yang susah; ada yang menginjak, berarti harus ada yang diinjak; dan… ada yang sejahtera, berarti harus ada yang menderita… Hahaha, itulah negeri kita, negeri ZAMRUD KHATULISTIWA!!

pikiran qta

November 26th, 2005 by keyn79

Sambil nunggu hujan reda… (terjebak di warnet nih)

Pengen ngomong tentang.. our mind (lil bit). Ini tentang… bisa gak sih kita menghentikan pikiran?to stop our mind? Dalam beberapa kasus, bisa. Misalnya saat meditasi, beribadah(pada level tertentu), atau saat tidur (meskipun pada aktivitas ini pikiran kita tidak berhenti sama sekali, hanya saja tidak terkontrol). Saat kita beraktivitas seperti biasa, apakah kita dapat menghentikan pikiran kita?aku kira tidak. Manusia itu makhluk yang dinamis, semua yang ada padanya selalu bergerak atau digerakkan,bahkan pada saat dia tidak sadar. Pikiran, organ2 jasmani, perasaan.. semua itu berada dalam satu kesatuan sistem ‘nyawa’, yang selalu bergerak.

Beberapa hari yang lalu, di suatu perpustakaan aku bertemu dengan seseorang dan kemudian kami mengobrol tentang banyak hal. Dalam obrolan itu terselip cerita tentang hidupnya. Dia mengatakan bahwa pikiran itu harus diatur, dimana kita ada, disitulah pikiran kita tertuju. Seperti aku (masih kata dia), ketika ada di rumah, maka tinggalkan urusan/pikiran tentang kantor, karena yang yang harus dipikirkan adalah keluarga(kbetulan dia sudah berkeluarga), dan sebaliknya, begitu kita keluar rumah maka tinggalkan urusan/pikiran tentang keluarga, dan pikirkan urusan kantor. Aku bertanya-tanya, apakah pikiran bisa dipilah-pilah dan dihentikan seketika itu juga? Kupikir ini bukan masalah menghentikan pikiran tentang sesuatu, tetapi masalah ‘fokus’.

(tu bi kontinyut… ujan udah reda ni)

BBM Naik, Rakyat Tercekik

October 7th, 2005 by keyn79

Akhir September- hampir setiap orang di setiap sudut kota membicarakan tema yang sama: ‘kenaikan harga BBM’. Tak pelak lagi tema itu jadi omongan, lha wong ini menyangkut stabilitas dan kelancaran hidup. Ekonomi yang sudah mulai agak stabil dan tertata tiba-tiba dikejutkan dengan kenaikan harga BBM yang melambung tuuinggi. Masyarakat yang pada isu2 awal kenaikan BBM sudah bersiap-siap membuat permakluman- saya katakan permakluman karena begitulah hukum di negara kita, selalu saja masyarakat yang diharuskan memaklumi pemerintah dan bukan pemerintah yang memaklumi masyarakat- pada akhirnya harus membuat permakluman (baca: pengorbanan) yang lebih besar lagi, karena kenaikan yang seharusnya ‘hanya’ 50%-70% mendadak menjadi lebih dari itu. Permakluman seperti apa lagi yang diminta? Belum lagi, kenaikan itu diumumkan jauh2 hari sehingga menjadikan panik di masyarakat.

Dari siaran televisi, saya menyaksikan presiden kita berbicara mengenai alasan kenaikan BBM. Salah satunya yang tertangkap oleh telinga saya adalah, agar terjadi ‘pemerataan’, dimana masyarakat yang bermobil (kaya) dapat mensubsidi masyarakat yang tidak mampu, sehingga anggaran subsidi BBM tidak dinikmati oleh orang yang mampu. Sekilas mungkin hal itu benar adanya, tapi bagaimana dengan sistem? Saya, sebagai orang yang awam dan mungkin tidak mempunyai pikiran yang terlalu jauh ke depan, mencoba menelaah. Jikalau apa yang dikatakan oleh bapak presiden kita yang terhormat itu benar ingin dilaksanakan, yaitu agar terwujudnya pemerataan, mengapa tidak menggunakan cara yang lain daripada menaikka harga BBM yang jelas akan menyengsarakan rakyat? Misal, bagaimana jika dengan meningkatkan pajak kendaraan atau barang mewah? Bukankah dengan demikian malah akan tepat sasaran, karena yang terkena kenaikan pajak adalah benar2 orang yang mampu?

Dari siaran televisi juga saya menyaksikan bapak wakil presiden dalam suatu dialog dengan masyarakat. Ketika masyarakat protes dengan kenaikan BBM, beliau kemudian menjelaskan bahwa dengan adanya kenaikan itu, akan ada pula dana kompensasi yang diberikan kepada masyarakat kurang mampu sebesar 100 ribu per bulan. Nah, - masih kata beliau- dana kompensasi itulah yang dapat digunakan untuk membeli BBM, karena itu jangan dipergunakan untuk hal lain kecuali untuk mencukupi kebutuhan bahan bakar. What? Waduuuh pak wapres, mbok sampeyan itu mengerti (atau pura2 nggak mengerti?), dengan adanya kenaikan BBM yang sebegitu besar pastilah akan diikuti kenaikan harga2 lain yang juga tinggi. Dengan kompensasi sebesar itu apa ya dapat menutupi kebutuhan hidup?

Sekali lagi dari siaran televisi (dan juga koran), saya mendengar adanya penyelewengan dana kompensasi di sana sini. Oalah… kok ya rakyat kita ini selalu disengsarakan… kok ya tega-teganya yang menyengsarakan…. Sebenarnya negara ini mau diapakan?dibawa kemana?jika rakyat kecil masih saja jadi korban. Apakah harus dengan mencekik mereka agar negara ini maju?

takdir..?

September 7th, 2005 by keyn79

* Teriring doa dan belasungkawa yang sedalam-dalamnya bagi para korban kecelakaan Boeing 737 Mandala Airlines.

Takdir. Itu adalah kata yang terlintas di benakku ketika pertama kali mendengar berita kecelakaan pesawat Boeing 737 Mandala Airlines di Medan, tanggal 5 September 2005 siang. Berbagai alasan dan logika penyebab kecelakaan itu langsung ku’cut’ dengan kata TAKDIR. Tentu, ketika orang bicara tentang alasan teknis terjadinya kecelakaan, maka yang muncul adalah berbagai penjelasan logis yang rumit beserta paparan panjang lebar dengan berbagai macam pembuktian. Tetapi jika kita bicara tentang alasan mengapa jumlah korban cukup banyak dan mengapa harus mereka yang mengalami, tentu muaranya adalah takdir. Tak ada yang bisa membantah.

Orang bilang- dan kita yakin- hidup, mati, jodoh dan rezeki itu adalah misteri yang kita sebut takdir. Tak ada yang tahu mengapa ada orang yang mampu hidup 100 tahun tetapi ada pula yang hanya mampu menghirup udara sekian detik. Tak ada yang tahu mengapa Si A bisa mencintai Si B. Tak ada yang tahu mengapa Si Kaya tiba-tiba menjadi miskin dan Si Miskin bisa tiba-tiba menjadi kaya.

Kita mungkin bisa berteori macam-macam untuk menjelaskannya. Dan kita akan terus bertanya atas jawaban yang satu dan berikutnya. Maka ujung dari pertanyaan itu pastilah berjawab takdir. Misalnya, mengapa burung bisa terbang? Kita akan menjawab, ‘karena burung punya sayap’. Kemudian kita bertanya lagi, mengapa sayap bisa menyebabkan burung terbang melayang? Dan kita akan menjawab bla-bla-bla…, dan mungkin kita masih akan bertanya lagi dan mencoba mencari jawabnya. Dan mungkin (lagi) pada ujung pertanyaan kita akan bertanya, mengapa burung termasuk yang terpilih mempunyai sayap? Maka jawabnya adalah TAKDIR.

Takdir memang bisa diubah dengan berusaha dan berdoa. Tetapi takdir akan tetap selalu menjadi misteri. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok, esoknya, esoknya lagi, dan seterusnya selama dunia ini masih ada. Mengapa takdir itu ada? Mungkin agar hidup menjadi lebih menarik, atau mungkin seperti yang pernah kubaca dalam sebuah buku, ‘Agar hidup menjadi lebih bermakna’.

BAU

September 7th, 2005 by keyn79

Intrik…kecurangan… hal itu baru benar-benar kurasakan setelah kumasuki dunia kerja yang baru beberapa bulan ini. Hal yang sebenarnya pernah kurasakan ketika aku ikut mengurusi warung orang tuaku yang mempunyai sedikit pegawai. Dari sedikit pegawai itupun terdapat kecurangan dan intrik diantara mereka, walaupun hanya dalam skala kecil. Namun jika dikalkulasi, sedikit kecurangan pun jika dilakukan terus-menerus akan merugikan kami sebagai pemilik. Disamping itu, intrik diantara mereka terus berkembang sehingga menciptakan iklim yang negatif. Keputusanpun diambil, dan kami memberhentikan 3 orang diantaranya. Konsekuensinya, kami jadi harus bekerja lebih berat, tetapi juga dengan cost yang dapat ditekan. Dan- masalah kecuranganpun dapat diminimalisir.

Sekarang, setelah aku masuk dalam dunia perkantoran, bekerja sebagai kaki tangan pemerintah- yang kita semua tahu bagaimana kecurangan di instansi2 pemerintah- aku masih saja kaget. Terlebih lagi, kecurangan paling besar (yang aku tahu) justru tidak berasal dari kantorku, tetapi dari pihak luar.

Dan kita juga tahu, kecurangan bukan monopoli instansi2 pemerintah. Setiap instansi, perusahaan, atau apapun namanya yang merupakan tempat menimba uang yang terorganisir, pastilah ada sedikit banyak kecurangan.

Teman kantorku bilang (dan katanya dia mengutip omongan seorang politikus), suatu kali jika kita masuk WC yang berbau untuk pertama kalinya, pastilah kita merasa jijik, atau paling tidak merasa tidak nyaman untuk menggunakannya. Tetapi jika kita memakai WC itu secara terus menerus untuk waktu yang lama- mungkin karena terpaksa- pastilah kita akan terbiasa dengan bau itu, hingga ketidaknyamanan tak terasa lagi. Nah (masih kata dia), begitu juga dengan intrik dan kecurangan yang ada, suatu saat kita akan terbiasa. Bener- tapi kalau sampai merugikan orang banyak, atau paling tidak merugikan diri kita, apakah kita akan diam saja?atau malah kita akan ikut arus, mengikuti kecurangan mereka?

Seperti juga- setiap kali aku datang ke Jakarta, pasti ada aroma khas yang menyambutku; aroma sampah, got, selokan atau sungai yang busuk. Aroma yang sepertinya jadi trademark kota Jakarta. Seolah jika belum mencium bau itu, serasa belum di Jakarta. Dan pada akhirnya aku terbiasa dengan bau itu, bahkan merasa aneh jika tidak menciumnya. Padahal, bau itu sangat tidak sedap di hidung. Jika kecurangan itu seperti bau busuk yang kucium itu, aku jadi takut, mungkinkah suatu saat nanti aku terbiasa dan bahkan mengikuti arus kecurangan itu serta mencari pembenaran-pembenaran atasnya?

antara sakit, makan dan rizki

August 13th, 2005 by keyn79

Baru saja aku sembuh dari sakit yang agak lama ngendon di tubuhku. Baru kali itu aku sakit sampai ga doyan makan. Kalau istilah sekarang - Gue gitu loh, bisa-bisanya ga doyan makan. Aku- yang kalau makan ga pake disuruh, yang kalau makan apa aja doyan, yang ga suka telat makan karena ga tahan lapar- bisa-bisanya ga berminat makan!!!

Ketika kuperiksakan ke dokter pertama kali (aku periksa ke dokter sampe 3 kali, dan finally aku didiagnosis menderita gejala typus), tahu apa komentarnya? Anda KURANG MAKAN & KURANG MINUM!! What?? yang bener aja, sekali lagi- Gue gitu loh, kurang makan?? yang bener aja!! Ketika kuceritakan di rumah, adekku langsung tertawa n nyeletuk, ‘wah, jangan-jangan kena busung lapar, mbak’. Enak aja busung lapar, emang aku kurang gizi?. Tapi kemudian aku tercenung, wait a minute… aku lapar n sakit karna aku tidak nafsu makan ( ? -paling ga sejak aku merasa sakit), bukan karena kekurangan makanan. Tapi anak-anak yang terkena busung lapar atau kurang gizi, bukan dikarenakan mereka tidak nafsu makan, tetapi karena memang tidak ada sesuatu yang bergizi untuk dimakan. Jadi, kalau aku tidak mau makan, bukankah secara tidak langsung aku juga bersalah sama mereka? betul ga? dan juga jadi seperti manivestasi dari rasa tidak bersyukur… - bersambung-

sudahkah kita peduli?

June 4th, 2005 by keyn79

Salah satu acara TV favoritku adalah Oprah Winfrey Show. Alasannya? Karena acara ini ’so inspiring’ bagiku. Minggu lalu tema yg diangkat adalah tentang heroisme. Ditampilkan beberapa kisah yg menunjukkan bagaimana ternyata seseorang mampu menolong orang lain secara spontan dikarenakan hatinya tergerak melihat penderitaan orang lain. Ada kisah seorang ibu yang secara spontan menolong seorang anak kecil yang sedang diserang anjing (sejenis buldog), tanpa mempertimbangkan bahwa dia juga dapat terluka parah jika menolong anak tersebut. Ada pula kisah tentang 3 orang murid SMU yang secara spontan melindungi ibu guru mereka dari serangan suaminya yang bersenjatakan pisau. Dan masih ada beberapa kisah heroik lainnya. Di akhir acara ditampilkan pula kisah para prajurit muda Amerika yang gugur dalam peperangan di Afghanistan (ato di Irak?), lewat surat2 mereka yang ditujukan utk keluarga tercinta. Surat2 itu begitu menyentuh dan membuka mataku bahwa mereka tidak hanya sekumpulan prajurit dari negara yang sok kuasa. Tapi mereka masing2 adalah sebentuk jiwa, bernama seseorang.

Benar kata Oprah. Jumlah prajurit yang gugur itu bukan hanya sederet angka matematis, bukan hanya sekedar statistik- terlepas bahwa jumlah itu tidak seberapa dibandingkan dengan penduduk yang tewas di Afghanistan, Irak ataupun Palestina akibat perang. Setiap angka adalah sebuah jiwa. Sebuah jiwa yang sangat berharga. Sebuah jiwa yang sangat berarti bagi seseorang, entah orang tua, kakak, adik, anak, kekasih, teman atau siapa saja.

Bicara tentang heroisme- sebenarnya inti yang paling penting dari kisah2 tersebut adalah KEPEDULIAN terhadap sesama, terhadap lingkungan. Kita tak usah membuatnya seperti kisah2 di acara Oprah itu atau menunggu momen yang seperti itu untuk peduli (mjd ‘hero’) terhadap sesama. Cukup mulai dari hal kecil. Seperti, pernah suatu pagi ketika aku bermotor di jalan yang tidak terlalu lebar, dari arah berlawanan ada sebuah mobil yang melaju pelan. Dari jauh si pengendara mobil memberiku tanda dengan menghidupkan lampu dan mematikannya kembali. Biasanya tanda seperti itu ditujukan untuk memberi kode pada pengedara lain agar dia bisa lebih dulu lewat. Motorpun akhirnya agak kupinggirkan. Tapi ternyata si pengendara mobil masih saja memberiku tanda dengan lampu mobilnya yang melaju pelan. Sambil ngomel2 kuliatin si pengendara (seorang bapak2). Tapi kemudian kulihat dia memberi kode dengan tangannya dan menunjuk2 kearah motorku. Untuk sesaat aku masih nggak ngeh apa maunya. Dan tiba2 aku sadar kalau ternyata lampu motorku masih menyala setelah kupakai semalam. Ah, ternyata dia mau memberitahuku tentang itu. Sambil mengganggukkan kepala aku berterimakasih pada si bapak pengendara mobil. Aku tak tahu dia sempet mendengarku apa nggak. Beberapa saat setelah kejadian itu aku masih terheran2. Hari gini gitu lo.. masih ada orang yang care pada orang lain untuk sekedar hal yang kecil. Dan si bapak itu bener2 mau ngasih tau aku sampe aku bener2 menyadari apa yang dimaksudkannya. wow..!

dreamin’ of Sergent Garcia

May 22nd, 2005 by keyn79

Waktu menunjukkan pukul 20.00 lewat ketika lampu penonton mulai dipadamkan, dan yang tersisa hanyalah lampu sorot diatas dan depan panggung. Tak lama kemudian muncullah sosok yg ditunggu2.. he’s… SERGENT GARCIA ‘King of Raggasalsa’. Bersama grup bandnya, Los Locos del Barrio, dia mulai membius penonton dengan irama reggae latin yg dikombinasikan dg irama salsa. Hingga setiap tubuh yg memenuhi gedung societet (tempat pertunjukan dilaksanakan), tak mampu untuk tak bergerak, so am I.

Peluh yang mengalirpun tak terpedulikan. Kami terus bergoyang sepanjang pertunjukan dengan mata dan telinga terfokus pada aksi ‘the king’ n frens. Dengan mulut komat kamit kami juga berusaha mengikuti lirik yang diajarkan tanpa tahu artinya (karna dalam bahasa spanyol). Sedang musik yang tersaji terkadang berirama cepat layaknya hiphop, terkadang slow dengan warna salsa yang kental, tapi yang pasti selalu ada warna reggae didalamnya. Diramu dengan aksi panggung yg ok, interaksi yg bagus dg penonton, penampilan yg charming dg busana serba putih, pertunjukan mereka malam itu bisa dikatakan sempurna. Hingga tak terasa pertunjukan yg berlangsung selama 2 jam itu berakhir sudah.

Kami pulang dengan rasa cape’, haus dan lapar, yang baru kami sadari setelah pertunjukan berakhir. Malam itu kami berangkat tidur dengan rasa puas, dan bermimpi tentang ‘le sergent’ yang baru dapat kami saksikan lagi tahun depan. Just like his song.. ” Long time….”

itu pohonku

May 14th, 2005 by keyn79

Dulu di belakang rumahku tumbuh sebatang pohon jati yang umurnya sudah puluhan tahun, bahkan mungkin lebih dari seratus tahun. Bagiku yang masih kecil waktu itu, pohon jati tersebut terlihat begitu hebat. Dia punya diameter yang besar, tinggi dan daunnya lebar2. Satu2nya yang membuatku heran adalah ukuran bijinya yang kecil, yang tidak sebanding dengan batang dan daunnya.

Bersama teman2ku, aku suka bermain petak umpet dibelakang rumah. Dan pohon jati itu menjadi tempat persembunyian favoritku, karena dengan batangnya yang besar, dapat menyembunyikan tubuh kecilku dengan sempurna.

Karena pohon jati itu pula aku slalu inget pelajaran IPA yg diberikan Ibu Guru waktu SD tentang pohon yg meranggas di musim kemarau. Dia menjadi semacam bukti nyata dari apa yg telah dijelaskan oleh guruku.

Pohon jati itu menjadi kebanggaan dan kegembiraanku. Aku sering bermain di sekitarnya, meskipun terkadang aku takut, karena aku pernah menemukan ular didekat pohon itu. Aku takut pada ular, meskipun sebenarnya  mereka cantik.

Suatu hari, pohon itu ditebang atas perintah bapak, dan kemudian dibiarkan tergeletak begitu aja dalam waktu yg agak lama. Sudah tidak ada lagi kebanggaanku padanya. Pohon itu kini hanya seonggok batang kayu yang tak berdaya. Tapi aku masih tetap bermain bersamanya, bersama teman2 kecilku, diatas bangkainya.

Pada akhirnya, batang pohon jati itu menjadi salah satu unsur rumahku yang baru dibangun setahun kemudian. Kebanggaanku padanya pulih kembali. Dia kini tak hanya seonggok kayu yg ditelantarkan tak berguna. Dia kini menjadi bagian dari rumahku, yang melindungiku dan keluargaku. Dan kemudian aku tahu dan menyadari, dia hebat bukan karena bernama pohon jati, bukan pula karena tubuhnya yang besar dan kuat, tapi karena apa yang telah diperbuat dan manfaatnya bagi makhluk lain.

…aroma…

April 30th, 2005 by keyn79

Hujan kemaren mengguyur jogja yg panasss.

Bau tanah yang basah tersiram air hujan layaknya candu bagiku. Kuingin menghirupnya skali lagi dan lagi….

Bau tanah basah karna hujan layaknya juga ‘time machine’. Ia bisa melemparkanku kembali dalam angan2 masa lalu. Aromanya menyelusup ke hidungku dan merambat menuju otak dan menggali, mengaduk2x sesuatu yang telah mengendap disana, kemudian memunculkannya dalam imajinasi. Membuatku mengingat berbagai peristiwa yang terjadi ketika hujan turun pertama kali di musim kemarau…

Bagi banyak orang, banyak hal yang bisa mengingatkan seseorang akan suatu peristiwa. Tapi bagiku, ‘aroma’ adalah sesuatu yang paling dapat membangkitkan memori (note: dalam hal ini adalah aroma yang ga membuatku pengen muntah). Mulai dari aroma shampoo hingga aroma musim.

Aroma musim panas (kemarau) ku yang paling kuinget adalah ketika explore luweng jaran n pendakian gunung Rinjani. Aroma musim panas di kawasan karst Pacitan n juga savana yang kering di punggung Rinjani sangat…. um… tak terkatakan. Aroma yang membuatku kangen untuk menemuinya lagi.

(tu bi kontinyut…)